Tanda-Tanda Kegadisan atau Keperawanan

Oktober 6th, 2008 by awan965

Pasangan hidup adalah salah satu hal yang amat menentukan terbinanya kehidupan sakinah wa rahmah didalam keluarga. tentunya selain ketaqwaan, nasab (garis keturunan) dan memiliki sedikit harta (bukan dalam artian matre), kecantikan serta keperawanan seorang gadis sangat dianjurkan dan menentukan dalam memilih pasangan. nah berikut ada sedikit tips corat-coret untuk melihat seorang gadis yang masih suci. semoga dapat bermanfaat, dan ini adalah tips buat ikhwan-ikhwan yang benar-benar mau membina rumah tangga, jadi jangan disalah gunakan ya…

KRITERIA WANITA PILIHAN ADA EMPAT

  1. Agak hitam rambutnya, hitam alisnya, hitam bulu matanya, hitam bola matanya.
  2. Agak putih badannya, putih giginya, putih kedua telapak tangannya.
  3. Agak kemerah2an bibirnya, kemerah2an pipinya, kemerah2an gusinya.
  4. Agak sedang kepalannya, dagunya, sedang payudaranya, semerbak keringatnya, harum bau mulutnya, hidungnya dan badannya.

Wallahu a’lam bisshawab. Untuk lebih spesifik ada beberapa hal yang perlu diperhatiakan diantaranya: Read the rest of this entry »

Aku Tetap Setia Padamu

September 8th, 2008 by awan965

Hai, sudah sore, lembayung pun sudah mau ke tempat peraduannya!”, angin membisik kepada lelaki itu.

Tetapi lelaki itu masih tetap juga berdiam diri di bawah pohon rindang. Dia berharap rembulan dan bintang mengabari tentang seseorang yang ditunggunya. Dia masih ada harapan untuk mencoba bersabar menungu.

“Hai, aku angin siang yang masih memberikan kesejukan, dan aku akan segera kembali, dan aku akan digantikan dengan angin malam, angin yang mungkin akan membuatmu tidak enak badan”, angin memperingatkan lelaki itu.

Tetapi lelaki itu semakin asyik melihat langit untuk menyambut sang dewi malam bersama bintang yang menghiasi langit.

Itulah sebuah kesetiaan yang kadang-kadang tidak memperdulikan lagi sekelilingnya.

Aku Titip Pertanyaan

September 8th, 2008 by awan965

Angin coba kau tanyakan padanya
Ke manakah dia selama ini
Mantari coba kau lihat di jagat raya
Sedang apakah dia selama ini
Rembulan coba kau liat di malam hari
Nyenyakkah dia selama ini

Siapa lagi yang aku tanya tentang dirinya?

Menunggu bersama Lembayung

September 8th, 2008 by awan965

Siang itu, seorang lelaki masih duduk di bawah pohon yang rindang
Lelaki itu masih tetap setia menunggu wanita pujaannya
Dia baru sadar bahwa mentari sudah condong ke arah barat
“Ah.. sebentar lagi lembayung muncul di ufuk barat,
Biasanya dia muncul juga bersamaan dengan lembayung itu”
Dia akan duduk di bawah pohon itu sampai lembayung muncul
Dia berharap yang ditunggunya itu datang juga

Memang menunggu itu pekerjaan yang membosankan.

Dirimu Ke Mana Saja?

September 8th, 2008 by awan965

“Musim akan segera berganti, namun cintaku padamu tidak akan berganti. Rambutku sudah mulai memutih, sudah mulai berubah warna namun rasa rinduku padamu tidak akan luntur. Bentuk badanku mulai berubah bentuk namun rasa kangenku padamu semakin menyala”. Lelaki itu terus merenung dan terus mengharapkan bertemu dengan lelaki pujaannya.

“Sudah lama kita tidak bertemu, sudah lama aku menentikan dirimu hadir meskipun hanya sejenak.” Lelaki tua terus berharap.

Angin kemarau sudah mulai tidak datang, udara panas pun sudah mulai meninggalkan lelaki tua itu. Namun lelaki tua itu tetap setia menunggu wanita pujaanya di taman bunga yang indah dan di bawah pohon yang masih rindang.

“Duhai wanita pujaanku ke mana saja sekarang ini? Semoga kau bahagia dan ada dalam lindungan-Nya.” Lelaki tua terus menyebut wanita pujaannya.

Pertemuan Denganmu Begitu Berkesan

September 8th, 2008 by awan965

Pertemuan malam itu tak kulupakan pertemuan kali ini membawa kesan walau sekedar bertemu hanya sekilas memandang cukup memberi kenangan indah dan syahdu. Bilakah kita kan jumpa, seperti waktu itu? Memandang parasmu lagi sepuas hati, aku enggan untuk pulang walau waktu telah mejelang untuk berpisah. Ku ingin hidup bersamamu

Lelaki itu mengingat-ngingat kembali berbagai kejadian indah bersama wanita pujaan yang sampai saat ini belum juga menemuinya lagi. Lelaki tua itu masih setia menjaga bunga yang sedang mekar, bunga itu pemberian wanita pujaannya.

Wanita pujaannya pernah berpesan, “Aku titipkan bunga ini padamu, jagalah bunga ini jangan sampai layu, seperti cintaku padamu, seperti cintamu padaku. Semua tentang kita hanya hati kita yang tahu, semua rasa cinta ini, rasa sayang ini hanya kita yang merasaka, semua kisah kita hanya kita yang tahu, begitu juga dengan bunga ini, hanya dirimu yang berhak untuk menjaganya, tataplah bunga ini seperti menatap diriku”.

Lelaki tua semakin bertambah semangat hidupnya ketika ingat pesan wanita pujaannya. Dia percaya bahwa suatu saat wanita yang ditunggu-tunggunya pasti aka menemuinya lagi.

Biasanya yang Bukan Kebiasaan

September 8th, 2008 by awan965

Biasanya neng “kokom” bersama neng “imel”
Suka memberikan kabar baik tentang dirinya
Biasa neng “popon”
Suka memberikan kabar baik tentang dirinya

Sekarang neng “kokom”, neng “imel” dan neng “popon”
Diam membisu tidak seperti biasanya
Mereka memang jarang membiasakan seperti itu

Ah… biarlah aku tunggu kabar
dari angin
dari mentari
dari rembulan
dari bintang
dari embun pagi
dan dari rasa yang paling dalam

Adakah teman kabar tentang dirinya?

Masih Kurasakan

September 8th, 2008 by awan965

“Ah sekarang sudah hari Kamis lagi, Aku teringat kamis sore ketika menerima senyuman darinya, indah sekali sore itu, cuaca cerah, suasana romantis”, lelaki tua itu mengenang kembali pada hari Kamis yang pernah menjadi kenangan baginya.

“Aku masih merasakan hangatnya senyumanmu, aku masih merasakan indahnya tatapanmu, ah… senyum simpulmu, ah… lirikan mataku masih kuat menancap dihatiku, dulu dan sekarang aku tidak bisa melupakanmu”, lelaki tua itu terus mengenang wanita pujaannya.

Dia kembali membuka lembaran-demi lembaran catatan hidupnya, ada catatan kebahagiannya yang tersirat. Lelaki tua selalu membaca tulisan kenangan manis bersama wanita pujaanya. Dia cukup bahagia ketika melihat catatan hidupnya yang penbuh dinamika. Dina menikmati kehidupannya dengan iklhas.

Mentari sudah mulai bergeser ke arah barat, angin pun mulai meniupnya dari arah tenggara, lelaki tua itu masih menikmati rindangnya pohon dan indahnya bunga yang sedang mekar. Dia masih memiliki rasa cinta kasih yang masih mekar seperti bunga di taman itu. Dia masih punya kesejukkan hari seperti udara di pagi hari. Lelaki tua itu masih menunggi wanita pujaannya datang.

“Semakin hari semakin rindu, semakin kangen kepadamu”, lelaki tua itu berusaha menenangkan rasa rindu pada wanita pujaanya.

Kapan Cerita ini Berakhir?

September 8th, 2008 by awan965

Lelaki tua itu membuka kembali catatan hidupnya. Dia melihat catatan hidup yang penuh dinamika kehidupan, setiap lembar catatan hidupnya penuh dengan kisah denga  wanita pujaannya.

Diujung bulan ini dia berharap bisa lahir kembali, bisa membuat kisah yang baru, bisa membuat catatan hidup yang lebih baik. Lelaki tua masih menyimpan rasa kasih dan sayang pada wanita pujaanya. Dia masih semangat untuk hidup lebih baik, dia masih tetap menunggu barita dan masih berharap bertemu dengan wanita pujaanya. Meskipun dia tidak tahu kapan cerita dan kisahnya akan berakhir. Dia hanya tahu bahwa cerita dan kisahnya akan berakhir ketika dia mengakhiri masa hidupnya.

Lelaki tua masih tetap berteduh di bawah pohon rindang sambil melihat bunga yang sedang mekar.

Cinta yang Tak Berujung

September 8th, 2008 by awan965

Pagi-pagi hapeku berbunyi menandakan ada pesan singkat yang masuk. Setelah dilihat ada lima pesan singkat yang masuk. Aku coba buka satu-satu ternyata isinya bernada sama, yaitu menanyakan kapan pertemuan panitia karyawisata.

”Ah biarlah tidak akan saya jawab, nanti juga di kampus akan bertemu mereka”, aku berkata sendirin sambil membereskan buku-buku untuk perkuliahan hari ini. Ah baru pukul delapan masih ada waktu untuk bertemu mereka di kampus. Pukul sembilan aku berangkat menuju kampus. Read the rest of this entry »